Memuat...

Rabu, 23 Juli 2014

Membuat Bubuk Cabai

0 comments

     Menurut lidah saya, bubuk cabai sangat cocok dicampurkan ke dalam makanan berkuah yang hangat. Belakangan ini bubuk cabai siap pakai buatan pabrik bisa didapatkan dengan mudah dan praktis karena kita tinggal membuka bungkusnya dan bisa langsung digunakan. Meskipun demikian, selalu ada kemungkinan kandungan bahan pengawet dan vetsin. Bukankah lebih baik jika kita membuatnya sendiri?
  1. Buang biji cabai merah besar, panggang dalam oven bersuhu 150 derajat Celcius selama 3-4 menit. Dinginkan.
  2. Ambil jintan dengan perbandingan 1:10 dengan cabainya. Sangrai selama 2 menit. Dinginkan.
  3. Giling cabai yang sudah dipanggang dan jintan yang sudah disangrai dengan blender kering atau food processor.
Selamat mencoba.

Kamis, 17 Juli 2014

Kombinasi Warna Cantik

0 comments
http://www.thescooterist.com/2011/11/vespa-super.html
     Manusia memang mahluk yang aneh. Terkadang suasana hatinya bisa berubah dalam hitungan detik hanya karena hal kecil. Tadi pagi saya melihat hal indah yang mendadak membuat saya ingin terus tersenyum. Hal yang mungkin remeh buat orang lain tapi sangat penting untuk saya. Meskipun bukan pemakai busana matching, saya menggilai kombinasi warna serasi. Saya seringkali memotret teman-teman yang kebetulan berbusana dengan warna senada, atau yang warna busananya senada dengan makanan yang dia santap, misalnya pemakai baju jingga yang sedang menyantap mie ayam banjir saus, begitulah.
     Mau tahu apa yang saya lihat tadi pagi?  Yakin enggak mau coba tebak dulu? Yakin?
     Dua perempuan mengendarai skuter warna biru permen yang menyejukkan mata. Mereka adalah ibu dan anak perempuannya yang beranjak remaja. Saya tahu karena saya menguping pembicaraan mereka--plis deh, saya bukan cenayang--yang sangat hangat dan cair tentang hal-hal sepele dalam keseharian mereka. Dan mereka kompak mengenakan kulot dan blus lipit merah jambu lembut dengan motif bunga mungil kuning muda dan daun mungil hijau muda. Dan mereka mengenakan helm berwarna pastel yang lembut. Indaaah sekali... Sontak saya menghela napas. Imut sekali cara Allah mengangkat beban dari hati saya, akibat friksi berkepanjangan antara orang-orang tercinta. Untuk beberapa detik senyum saya tak mau pergi dan hati saya terasa hangat. Saya merasa seperti di negeri dongeng yang damai, tanpa rasa sakit dan kemacetan. Alhamdulillah.


Selasa, 17 Juni 2014

Hari Gini Belum Punya Novel Marigold?

0 comments
Lagi ada promo nih, berlaku hingga hari terakhir Ramadhan. Yuk pesan lewat sini:



Sabtu, 14 Juni 2014

Dodit Mulyanto--Komedian Genius Yang Rendah Hati

14 comments
Foto:  Olah Warta
     Sebagai penggemar acara hiburan bermutu, saya setia menyimak aksi kocak para komika di televisi nasional. Di ajang SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) Kompas TV yang telah memasuki musim keempat, saya menjagokan Dodit Mulyanto dan suami saya menjagokan Abdurrahim Arsyad. Ibu saya juga senang menyimak Abdur, tapi Doditlah yang paling berhasil menghibur beliau, dan untuk itu saya amat sangat berterima kasih. Saya juga berterima kasih karena saya dan ibu saya--yang sama-sama penggemar berat Dodit--bisa cair dalam tawa lepas meskipun beberapa bulan belakangan ini kami menghadapi saat-saat sulit. Berikut ini beberapa kutipan yang sering kami ulang-ulang dan tertawakan bersama:


Minggu, 22 September 2013

Emang Siapa Gue? I'm (Not) Perfect

0 comments
Judul:  I'm (Not) Perfect
Penulis:  Dian Kristiani
Penerbit:  GPU


       Sungguh tak mudah menjadi perempuan, mahluk yang seringkali dituntut kesempurnaannya dalam menjalankan berbagai peran, dari mengasuh anak, mengurus keluarga, mengatur keuangan rumah tangga, mencari nafkah, berinteraksi dengan menantu, membawa diri, hingga mematut diri dan berpenampilan.  Ironisnya, kritik dan hujatan justru lebih sering datang dari sesama perempuan.

        Betapa mudah kaum perempuan terjerumus dalam asumsi, prasangka buruk, dan pergunjingan.  Betapa besar godaan untuk merasa benar, lalu menuding dan menghakimi perempuan lain.  Padahal memangnya kita siapa?  Bukankah manusia tak ada yang sempurna?  Bukankah tak seorang pun luput dari kesalahan?
   
     Buku ini mau tidak mau membuat kita bercermin dan menoleh ke belakang--sudahkah kita berjuang cukup keras untuk tidak sok tahu menilai orang lain?  Dian Kristiani dengan jujur dan berani--tanpa meninggalkan rasa humor meski tak "segila" canda ria di kisah-kisah keseharian sebelumnya, Buying Office Girl jilid 1 dan 2--mengajak pembaca ikut mengintip perjuangannya meraih kebahagiaan.  Dan pada akhirnya saya harus setuju, bahwa rasa bahagia tak akan pernah ada, jika kita terus-menerus mengukur keberhasilan diri dengan ukuran orang lain.  A must-read book for women!

Jumat, 20 September 2013

Meresapi Hujan di London

0 comments

Judul: London
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas
                          
Gilang adalah penulis roman yang ambisinya tak sebesar bakatnya.  Cerpen-cerpen karangannya hanya disimpan dalam sebuah kardus, untuk dibaca sendiri.  Sebaliknya Ning, sahabat yang juga tetangga dan teman sekolah Gilang, adalah penggila seni yang sangat mengenal dirinya dan tahu betul apa yang dia mau.  Jika Ning tak diam-diam mengikutsertakan cerpen Gilang dalam sebuah lomba, mungkin pemuda itu tak akan pernah menerbitkan karyanya. 
Gilang sanggup menciptakan tokoh-tokoh untuk menggerakkan alur dalam cerita-cerita karangannya, tapi ia kurang memahami perasaannya sendiri.  Ia baru menyadari cintanya kepada Ning setelah Brutus membaca dan mencetuskan perasaan Gilang yang terpendam itu.