Emang Siapa Gue? I'm (Not) Perfect

0 comments
Judul:  I'm (Not) Perfect
Penulis:  Dian Kristiani
Penerbit:  GPU


       Sungguh tak mudah menjadi perempuan, mahluk yang seringkali dituntut kesempurnaannya dalam menjalankan berbagai peran, dari mengasuh anak, mengurus keluarga, mengatur keuangan rumah tangga, mencari nafkah, berinteraksi dengan menantu, membawa diri, hingga mematut diri dan berpenampilan.  Ironisnya, kritik dan hujatan justru lebih sering datang dari sesama perempuan.

        Betapa mudah kaum perempuan terjerumus dalam asumsi, prasangka buruk, dan pergunjingan.  Betapa besar godaan untuk merasa benar, lalu menuding dan menghakimi perempuan lain.  Padahal memangnya kita siapa?  Bukankah manusia tak ada yang sempurna?  Bukankah tak seorang pun luput dari kesalahan?
   
     Buku ini mau tidak mau membuat kita bercermin dan menoleh ke belakang--sudahkah kita berjuang cukup keras untuk tidak sok tahu menilai orang lain?  Dian Kristiani dengan jujur dan berani--tanpa meninggalkan rasa humor meski tak "segila" canda ria di kisah-kisah keseharian sebelumnya, Buying Office Girl jilid 1 dan 2--mengajak pembaca ikut mengintip perjuangannya meraih kebahagiaan.  Dan pada akhirnya saya harus setuju, bahwa rasa bahagia tak akan pernah ada, jika kita terus-menerus mengukur keberhasilan diri dengan ukuran orang lain.  A must-read book for women!

Meresapi Hujan di London

0 comments
Judul:        London
Penulis:     Windry Ramadhina
Penerbit:   Gagas
                          
Gilang adalah penulis roman yang ambisinya tak sebesar bakatnya.  Cerpen-cerpen karangannya hanya disimpan dalam sebuah kardus, untuk dibaca sendiri.  Sebaliknya Ning, sahabat yang juga tetangga dan teman sekolah Gilang, adalah penggila seni yang sangat mengenal dirinya dan tahu betul apa yang dia mau.  Jika Ning tak diam-diam mengikutsertakan cerpen Gilang dalam sebuah lomba, mungkin pemuda itu tak akan pernah menerbitkan karyanya. 
Gilang sanggup menciptakan tokoh-tokoh untuk menggerakkan alur dalam cerita-cerita karangannya, tapi ia kurang memahami perasaannya sendiri.  Ia baru menyadari cintanya kepada Ning setelah Brutus membaca dan mencetuskan perasaan Gilang yang terpendam itu.  
Selama bertahun-tahun energi hidup Gilang telanjur tergantung pada Ning, tapi ia tak kunjung menyatakan perasaannya hingga tiba saat Ning harus meninggalkan tanah air, untuk mendalami seni dan kemudian bekerja sebagai kurator di London.
Suatu malam, Gilang yang sedang tersendat proses penulisan novelnya, bersenang-senang bersama keempat teman prianya.  Ia telanjur sesumbar, menyatakan akan mengejar Ning ke London.  Di luar dugaan Gilang, keempat temannya merencanakan perjalanan ke London dengan sangat rapi—memilihkan rute penerbangan termurah, memesan kamar di penginapan dengan harga terjangkau yang dekat dari tempat tinggal Ning. 
Setelah mendapat izin cuti, Gilang pun nekat berangkat.  Di sana ia harus menanti dalam ketidakpastian karena Ning ternyata sedang dinas ke luar kota untuk jangka waktu yang tak bisa ditentukan, sementara kondisi keuangan Gilang hanya mengizinkannya tinggal selama lima hari.  Setelah Gilang akhirnya berhasil menjumpai Ning, semua tampak begitu mudah dan indah.  Tapi mengapa akhirnya Gilang justru minta agar Ning meninggalkannya? 
Cerita ini sangat menarik karena seorang pemuda yang menyerahkan arah nasib pada berjalannya waktu, mendadak bertindak revolusioner.  Ia yang takut ketinggian rela terbang dua puluh jam lebih.  Ia juga harus melalui rangkaian kejadian yang membingungkan, dan seperti dihadapkan pada cermin saat menyaksikan perjuangan cinta John untuk mendapatkan Madge. 
Melalui London, saya rasa Windry hendak menyampaikan dua hal.  Pertama, manusia cenderung merasa diri paling malang di dunia saat tertimpa kesusahan, tapi jika kita mau membuka mata, telinga, dan hati, maka sesungguhnya kita tak pernah sendirian.  Kedua, ketika kita tidak memaksaan kehendak pada nasib, maka ia akan berubah arah menuju  jalan yang lebih mulus.  Dua pesan itu disampaikan dengan sangat halus dan cantik melalui jalan cerita yang penuh kejutan, dalam balutan pengetahuan tentang sastra dan seni. 

Be a Smart Blogger: Kolaborasi Cantik Sariayu, Elzatta dan Majalah Noor

2 comments
Saya sedang rindu ikut workshop tapi belum punya cukup energi untuk mengerjakan PR yang serius dan berat *penulis malas.*  Karenanya begitu Mbak Ade Nursaadah dari Majalah Noor mengiklankan  workshop Be a Smart Blogger, saya langsung daftar.  Otak lelah saya langsung membayangkan acara seru berlimpah hadiah, karena Majalah Noor menggandeng Sariayu dan Elzatta Hijab. *tuing*   
ganbatte!
     
Tiba di lokasi, saya langsung disambut goodie bagYes!  Langsung tampak senyum manis para peserta: sebagian adalah teman penulis yang sudah saya kenal, dan sebagian lainnya belum pernah saya jumpai sebelumnya.  Mereka tampak siap tempur dengan laptop masing-masing.  Saya sempat GR, mengira panitia menyediakan laptop untuk setiap peserta.  Ternyata benda mirip laptop itu make-up kit untuk kami gunakan di sesi beauty class. *pletak*   

tepuk-tepuk wajah
Sebelum acara dimulai, kami dipersilakan menicicipi kopi gurih nan harum, serta pastel gurih dan bolu marmer berhias cokelat yang langsung menggoyang lidah.  Halo-o.  Ini mau belajar atau piknik ya? 

Acara dibuka dengan sambutan Pemred Noor, dilanjutkan dengan presentasi komprehensif Dewi Theresia—make up artist yang pernah merias bapak negara—tentang tiga hal:  Sariayu, DR.Hc Martha Tilaar selaku pendiri grup Martina Berto Tbk, dan tips merawat wajah.   
produk Sariayu yang tepat untuk wajah Anda
   Topik yang terakhir langsung diikuti praktik. Suatu hiburan tersendiri melihat tingkah polah para peserta mengikuti langkah-langkah perawatan kecantikan sambil sibuk berpose dan jepret sana-sini lalu langsung unggah foto ke Twitter dan Facebook.  Kami melewati sesi ini sambil bercanda ria.
   
Setelah itu ada pembacaan puisi dan bincang singkat bersama Ratih Sang.  Puisi pertama berbicara tentang bertahan dalam kelelahan, puisi kedua tentang seorang anak yang mengidolakan ibunya, dan puisi ketiga tentang rasa bersalah yang mendera hati ibu bekerja.  Dalam bincang singkatnya Ratih Sang menguatkan sesama ibu bekerja, bahwa Allah melalui para malaikat-Nya akan menjaga anak-anak yang ditinggalkan di rumah atas nama perjuangan mencari nafkah.

Sesi terakhir yang merupakan acara puncak adalah lokakarya penulisan laman oleh Indah Juli Sibarani dan Benny Rhamdani.  Ah, pantas saja orang malas mampir ke blog saya.  Ternyata banyak sekali kesalahan yang sudah saya lakukan dalam menulis dan mengelola laman selama ini *tutup muka.*  

Ah, hari yang menyenangkan...

Marigold Girl School Series

0 comments

     Marigold itu apa, sih? Marigold adalah sebuah sekolah khusus untuk anak perempuan. Sekolahnya besar dengan berbagai fasilitas memadai untuk berprestasi, juga asrama bagi yang ingin coba hidup mandiri. Beragam anak bersekolah di sini. Mulai dari yang baik hati sampai yang belum bisa santun terhadap orang lain. Ada yang hidupnya sederhana, ada juga yang tinggal di rumah mewah dan punya pelayan pribadi yang selalu siap siaga.
     Kehidupan anak-anak yang bersekolah di Marigold itulah yang diangkat ke dalam novel seri Marigold Girl School. Setiap buku mengangkat satu tokoh anak yang bersekolah di Marigold Girl School. Jadi tiap novel akan menyajikan cerita yang berbeda-beda. Satu buku dengan buku lainnya tidak bersambung atau tidak terkait secara langsung. Persamaannya hanyalah para tokoh bersekolah di Marigold Girl School dan semua tokoh berjuang untuk masa depan mereka, sekitarnya, dan Indonesia yang lebih baik.
     Perbedaan lain antara seri Marigold Girl School dan seri Penulis Cilik Punya Karya adalah penulisnya. Novel seri Marigold Girl School ditulis oleh kakak-kakak yang sudah dewasa. Sebagian besar dari mereka sudah menerbitkan beberapa buku anak selain novel Marigold Girl School. Buku-buku seri Penulis Cilik Punya karya umumnya ditulis oleh anak-anak berusia maksimal 14 tahun atau belum genap berusia 15 tahun. Kisah-kisah Marigold Girl School menceritakan keseharian anak-anak sekolah. Pembaca tidak akan menemukan cerita fantasi, sihir, atau cerita imajinasi seperti di buku-buku PCPK.

     Sampai saat ini, Marigold Girl School sudah terbit sebanyak 5 buku:

Melodi Seruni

0 comments
Penulis:  Ratih Soe
Penerbit:  Noura Books

     Pilih jadi penulis atau komposer, ya?  Hmmm … Seruni, sih, mau dua-duanya. Tapi Ibu menentang habis-habisan hobi Seruni dalam bermusik. Ya sudah, Seruni melakukannya diam-diam. Malah ikut lomba cipta lagu saat sedang ujian di sekolah. Terang saja nilai-nilai Seruni jeblok semua.  Aduh, gawat!
      Dan Seruni pun harus menerima hukumannya, ia dilarang main musik, dan perkusinya dikunci di gudang!  Bagaimana, ya, sedihnya Seruni melewati hukumannya?  Berhasilkah Seruni menggapai impiannya satu panggung dengan komposer terkenal Iwang Noorsaid?  Kenapa gigi Sali copot?  Kenapa Dena dan Tiara harus menyanyi di dalam air?  Baca kisah lengkapnya, yuk!  Dapatkan langsung di toko buku, beli online di sini atau di sini

ORISINALITAS DAN KESEMPURNAAN DALAM PENULISAN LAGU

0 comments
Pernahkah Anda merasa kecewa karena dianggap memplagiat lagu orang lain?  Sebagaimana pernah saya sebutkan, melodi adalah rangkaian ritme dan titi nada.  Maka melodi bisa dianalogikan dengan deretan angka yang dicetak dengan ukuran dan ketebalan font yang berbeda-beda.  Dengan demikian tentu kesamaan pola antara satu melodi dengan yang lain adalah hal yang sangat mungkin terjadi.

Namun demikian, sebagai pekerja kreatif kita harus berjuang maksimal atas nama kesempurnaan karya.  Kita tidak boleh menutup mata terhadap kemungkinan tidak orisinalnya karya kita.  Bagaimana caranya?

POSTING TERPOPULER: